SANG INSPIRATOR
Saya seorang pemuda yang sedang mejalani status sebagai
mahasiswa di Universitas Negeri Jakarta, kampus yang sering disebut sebagai
kampus pergerakan intelektual. Saya mahasiswa program studi Pendidikan Matematika
masuk pada tahun 2015. Saat ini saya sedang aktif berorganisasi di BEM
Matematika UNJ sebagai Ketua Umum. Keaktifan di organisasi ini mengasah
kemampuan saya dalam kepemimpinan dan membangun inisiatif-inisiatif untuk
mengambil tindakan nyata dalam merespon permasalahan sosial dan pendidikan di
tingkat lokal, provinsi, dan nasional. Ini bahkan tidak didapatkan dibangku
perkuliahan. Sangat disayangkan ketika seorang mahasiswa hanya duduk manis dibangku
perkuliahan dan tidak keluar dari zona nyamanya. Padahal banyak hal yang dapat
dilakukan oleh seorang mahasiswa. Kontribusi dari mahasiswa yang selalu
ditunggu-tunggu oleh rakyat, karena ditangan mahasiswa bangsa ini dapat berubah
seperti pada era reformasi.
Sebagai seorang mahasiswa sudah sepatutnya peduli dengan
kondisi bangsa. Saat ini bangsa Indonesia yang menurut para mahasiswa
pergerakan sedang tidak baik-baik saja. Banyak masalah yang sedang terjadi di Indonesia
di tahun ini dan belum teselesaikan sampai saat ini. Kita melihat hari ini
hukum tegak kokoh dihadapan rakyat kecil, tetapi hukum loyo lunglai di depan
orang-orang kuat. Hukum menjadi tak berguna lagi di depan orang-orang berkuasa.
Dapatlah disimpulkan bahwa Republik Indonesia yang sering dilabeli sebagai
Negara Hukum terus terjepit oleh para pencipta hukumnya sendiri.
Melihat kondisi ini membuat kita merasa pesimis akan seperti
apa bangsa kita kedepannya? Hingga akhirnya bermuara pada satu pertanyaan,
adakah pemimpin sekaligus negarawan yang mampu membawa perubahan? Mahasiswa
sebagai kaum intelektual yang punya intelegensi tinggi diharapkan mampu
menjawab pertanyaan tersebut.
Mahasiswa memiliki peran yang istimewa yang dikelompokkan
dalam tiga fungsi : agent of change, social control, dan iron stock. Dengan
fungsi tersebut, tugas besar diemban mahasiswa yang diharapkan dapat mewujudkan
perubahan bangsa yang sudah sangat semrawut ini.
Sebagai agen perubahan, mahasiswa bertindak bukan ibarat
pahlawan yang datang ke sebuah negeri lalu dengan gagahnya mengusir
penjahat-penjahat dan dengan gagah pula sang pahlawan pergi dari daerah
tersebut diiringi tepuk tangan penduduk setempat. Dalam artian kita tidak hanya
menjadi penggagas perubahan, melainkan menjadi objek atau pelaku dari perubahan
tersebut. Sikap kritis mahasiswa sering membuat sebuah perubahan besar dan
membuat para pemimpin yang tidak berkompeten menjadi gerah dan cemas.
Sadar atau tidak, telah banyak pembodohan dan ketidakadilan
yang dilakukan oleh pemimpin bangsa ini. Kita sebagai mahasiswa seharusnya
berpikir untuk mengembalikan dan mengubah semua ini. Perubahan yang dimaksud
tentu perubahan kearah yang positif dan tidak menghilangkan jati diri kita
sebagai mahasiswa dan Bangsa Indonesia. Namun untuk mengubah sebuah negara, hal
utama yang harus dirubah terlebih dahulu adalah diri sendiri.
Hari ini korupsi semakin memprihatinkan, hukum bisa dibeli,
biaya pendidikan yang mahal, serta berbagai persoalan lainnya. Tentu hal ini
tidak dirasakan bagi mereka yang berkantong tebal, akan tetapi golongan
menengah kebawah sangat merasaknnya. Inilah mengapa kita sebagai mahasiswa
harus bertindak serta berperan aktif dengan ilmu dan kemampuan yang kita
miliki.
Peran mahasiswa sebagai social control terjadi ketika ada
hal yang tidak beres atau ganjil dalam masyrakat. Mahasiswa sudah selayaknya
memberontak terhadap kebusukan-kebusukan dalam birokrasi yang selama ini
dianggap lasim. Lalu jika mahasiswa acuh dan tidak peduli dengan lingkungan,
maka harapan seperti apa yang pantas disematkan pada pundak mahasiswa?
Kita sebagai mahasiswa seharusnya menumbuhkan jiwa
kepedulian social yang peduli terhadap masyrakat karena kita adalah bagian dari
mereka. Kepedulian tersebut tidak hanya diwujudkan dengan demo atau turun
kejalan saja. Melainkan dari pemikiran-pemikiran cemerlang mahasiswa,
diskusi-diskusi, atau memberikan bantuan moril dan materil kepada masyarakat
dan bangsa kita.
Para Pemimpin republic ini hanya berhasil membangun
kekesalan rakyatnya dan menanam bibit pesimisme. Mahasiswa sebagai generasi
penerus bangsa diharapkan memiliki kemampuan, ketrampilan, dan akhlak mulia
untuk menjadi calon pemimpin siap pakai. Intinya mahasiswa itu merupakan asset,
cadangan, dan harapan bangsa untuk masa depan.
Semua ilmu ini saya dapatkan saat saya menjadi seorang
mahasiswa yang aktif tidak hanya diakademik tetapi di organisasi. berharap
ketika menjadi mahasiswa dapat menjalankan tugas sebagaimana seharusnya dan
ketika lulus mampu memberikan banyak kontribusi ke bangsa ini khususnya untuk
memajukan bangsa indonesia.
Ketika saya menjadi seorang guru saya tidak hanya ingin
memberikan bekal ilmu saja numun juga memberikan tauladan terbaik sebagai sang
inspirator dan megarahkan para generasi muda untuk dapat meberikan kontribusi
terbaiknya untuk bangsa ini.
Komentar
Posting Komentar